Memphis terkepung. Kota tua berbenteng tangguh di Mesir itu dipenuhi lascar Romawi. Mereka melarikan diri dari medan pertempuran sebelumnya. Pasukan Romawi pimpinan Patrick Theodorus dengan 20 ribu orang itu perangkap. Panglima kaum Muslimin Amr bin Ash.
Dengan sebuah pasukan kecil, Amr bin Ash memancing pertempuran, hingga pasukan Islam itu seakan terdesak. Tetapi begitu tiba di Gunung Merah, tiba-tiba bagai air bah yang menerjang, majulah dua pasukan besar di bawah komando Zubair bin Awwam dan Kharija bin Hudzaifah. Sergapan itu membuat pasukan Romawi porak-poranda. Sebagian besar tewas dan sisanya menyingkir ke benteng Babilon.
Benteng Babilon merupakan benteng tua yang kuat dan tangguh. Pembatas bagian luar kota adalah sebuah sungai buatan yang dalam dan luas, dan dialiri oleh sungai Nil. Di luar benteng tampak kaum Muslimin mengepung dengan penuh kesabaran. Tekad mereka untuk menghancurkan kekuatan Romawi di tanah Mesir sudah tak terbendung. Kekuatan super power inilah yang sejak masa Nabi saw sering mengganggu keberadaan masyarakat Muslim.
Di dalam benteng, keadaan semakin guncang. Hal ini disebutkan kukuhnya pengepungan. Selain itu, terjadi perselisihan antara penguasa setempat (Mesir) yakni Muqauqis dengan penguasa penjajah Roma yakni Patrick Theodorus. Melihat tanda-tanda akan berakhirnya kekuatan Romawi di Mesir, kedua pemimpin itu cenderung mengambil jalan aman mengundang perutusan kaum Muslimin untuk mendengar isi tuntutan mereka.
Dua orang utusan Mesir dan Romawi dikirim ke perkemahan pasukan Islam. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh pemimpin pasukan Islam, Amr bin Ash. Dua orang itu ditahannya selama dua hari. Maksudnya, supaya mereka dapat melihat kehidupan sehari-hari kaum Muslimin.
Pasukan Romawi cemas karena utusannya tak kunjung tiba. Namun selang beberapa waktu kemudian muncullah kedua utusan itu. mereka pun dihujani pertanyaan tentang bagaimana keadaan musuh mereka. Utusan itu memberi jawaban yang mencengangkan. “Kami menyaksikan keramahannya mengimbangi keangkuhannya. Duduknya bersila di tanah. Pihak atasan tidak berbeda dari pihak bawahan. Mereka tidak mengenal perbedaan antara si kaya dan si miskin, antara tuan dan sahaya. Bila datang saat ibadah, tak seorang pun yang tidak mengerjakannya. Mereka mencuci anggota tubuh air dan sangat tekun dalam ibadahnya.”
Pernyataan itu sungguh mengguncangkan pihak Romawi karena rakyat Mesir saat itu berkumpul ikut mendengarkan. Rakyat semua tahu betapa penindasan Romawi selama beratus tahun terhadap tanah Mesir, hanya membangkitkan kebencian mereka kepada penguasa yang bermarkas di Konstantinopel itu.
Sesuai dengan perjanjian, suatu hari tibalah utusan kaum Muslimin. Mereka terdiri dari sepuluh orang yang dipimpinan Ubaidah bin Shamit. Ketika perutusan itu tiba di hadapan Patrick betapa terkejutnya dia. Serta merta ia memalingkan muka dan tak bersedia berdialog dengan pemimpin utusan.
Apa sebab? Ubadah tersenyum. Ia memang seorang Ethiophia (Habsy) yang berperawakan tinggi dan besar. Warna kulitnya hitam legam. Sedang warna kulit para anggota perutusannya cerah sebagaimana kebanyakan orang Arab lainnya. Seorang anggota perutusan maju ke muda dan berkata, “Tokoh hitam ini pemuka kami, termula dalam lingkungan kami. Pemimpin perutusan ini ditunjuk dan diangkat oleh panglima kami. Kami menghormati ilmunya dan buah pikirannya. Apa yang dikatannya adalah pendirian kami segenapnya!”
Peristiwa di atas mencerminkan betapa kekuatan yang dipersiapkan kaum Muslimin telah dapat meruntuhkan kekuatan fisik dan moral orang-orang kafir. Kekuatan tersebut adalah kekuatan sempurna, meliputi kekuatan akhidah, akhlaq, jamaah, ilmu dan amwal (harta benda). Kesemuanya berpadu dan sempat ‘dipamerkan’ panglima Amr bin Ash tatkala memukul pasukan Patrick di Gunung Merah maupun ketika “menginapkan” dua orang utusan musuh itu selama dua malam.
Kekuatan ukhuwah (persaudaraan) dan jamaah (persatuan) dipertontonkan dalam rombongan perutusan kaum Muslimin yang memadukan bermacam ras, seperti Arab Romawi, Negro (Habsy) dan lain-lain. Betapa kaum Muslimin, di bawah panji Islam, dapat menghimpun potensi berbagai bangsa tanpa merendahkan martabat satu sama lain.
Bagi musuh-musuh Islam yang masih memiliki hati nurani, hal demikian tentu menggetarkan dan menggelisahkan. Pameran yang diperlihatkan Amr bin Ash seakan-akan sebuah ‘panawar khusus’ kepada mereka untuk hidup di bawah naungan system Islam. Tawaran yang menggiurkan bagi bangsa Koptik yang beratus tahun tertindas dengan system kolonialisme Romawi.
Keadaan itu menyebabkan tumbuhnya sikap yang berbeda antara Muqauqis dan Patrick. Patrick Theodorus sebenarnya sudah dapat merasa kelemahan pasukannya. Kaum Muslimin dengan strategi yang tepat terus berupaya mencari kesempatan yang terbuka. Pada saat yang tepat, Zubair bin Awwam, beserta regu kecilnya menembus benteng dan membuka salah satu pintunya. Tak terbendung lagi pasukan Islam pun masuk, Patrick memang sempat meloloskan diri. Namun, 12 ribu pasukannya bergelimpangan menjadi korban pertempuran.
A.at_adv_here_16335, A.at_pow_by_16335 {font-family: Arial; font-size: 10px; font-style: normal; font-weight: normal; font-variant: normal; text-transform: none; color: #000099; text-decoration: none; }
A.at_adv_here_16335:hover, A.at_pow_by_16335:hover { color: #0000FF; text-decoration: underline; }
adtoll_see_your_ad_here = 1;
adtoll_your_text = “Advertise here”;
adtoll_show_powered_by = 1;
Kekuatan kaum Muslimin yang dibangun di atas landasan tersebut adalah kekuatan yang tak terbendung. Siapa yang mencoba menghalang-halanginya, akan tumbang.
Hepi Andi Bastoni